| Kondisi karhutla di Kalimantan (foto: human-initiative.org) |
GardaNews - Negara-negara di Asia menghadapi peningkatan risiko bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim. Kondisi tersebut membuat pemerintah di kawasan Asia dinilai perlu memperkuat langkah pencegahan dan adaptasi, bukan hanya bertindak setelah bencana terjadi.
Dalam artikel commentary Channel NewsAsia (CNA), jurnalis
Nirmal Ghosh menyoroti sejumlah bencana yang terjadi di kawasan Asia, termasuk
banjir besar di Nepal serta kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang
menyebabkan kabut asap di sejumlah wilayah.
Situasi tersebut terjadi ketika fenomena El Nino
diperkirakan membawa kondisi panas dan kering yang lebih ekstrem. Asia juga
mengalami pemanasan yang berlangsung lebih cepat dibandingkan rata-rata global,
sehingga risiko terhadap ketahanan pangan, kesehatan dan kehidupan masyarakat
semakin menjadi perhatian.
Kesenjangan Pendanaan Adaptasi Iklim Masih Besar
Salah satu persoalan yang disoroti adalah kesenjangan antara
kebutuhan pendanaan untuk menghadapi perubahan iklim dengan dana yang tersedia.
Penilaian Temasek Trust yang dikutip CNA memperkirakan Asia
akan menyumbang sekitar 75% dari kesenjangan pendanaan global untuk adaptasi
dan ketahanan iklim pada 2030.
Kebutuhan pendanaan untuk kawasan Asia diperkirakan lebih
dari US$200 miliar setiap tahun, sedangkan aliran pendanaan yang tersedia saat
ini sekitar US$19 miliar per tahun.
Untuk kawasan Asia Tenggara, studi McKinsey yang juga
dikutip CNA memperkirakan kebutuhan tambahan investasi sekitar US$25 miliar per
tahun agar tingkat perlindungan terhadap dampak perubahan iklim dapat mendekati
standar negara-negara maju. Dengan tambahan tersebut, total investasi tahunan
diperkirakan mencapai sekitar US$37 miliar.
El Nino Berpotensi Meningkatkan Risiko Pangan
Fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang mendapat
perhatian karena dapat menyebabkan kondisi lebih panas dan kering di sejumlah
wilayah Asia.
Riset OCBC Group Research yang dikutip CNA menyebut Indonesia,
India, Filipina dan Thailand termasuk negara yang memiliki tingkat paparan
tinggi terhadap dampak El Nino. Malaysia dan Vietnam juga menghadapi risiko,
meskipun dampaknya dinilai lebih terkonsentrasi.
Salah satu dampak yang perlu diantisipasi adalah kenaikan
harga pangan. Beras, gandum, jagung dan minyak nabati termasuk komoditas yang
disebut memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kondisi tersebut.
Bagi negara-negara Asia yang memiliki ketergantungan besar
terhadap sektor pertanian, perubahan pola cuaca dapat berdampak langsung
terhadap produksi pangan dan pendapatan masyarakat.
Kebakaran Hutan dan Kabut Asap Jadi Ancaman
Indonesia menjadi salah satu contoh negara yang menghadapi
dampak kombinasi kondisi panas, kering dan kebakaran hutan.
Pada 2026, kebakaran di sejumlah wilayah Sumatra dan
Kalimantan menyebabkan kabut asap yang berdampak terhadap kualitas udara.
Kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan dampak lintas batas ke
negara-negara tetangga.
CNA sebelumnya melaporkan bahwa Indonesia menghadapi musim
kebakaran yang sangat berat, sementara kondisi super El Nino dan kekeringan
memperbesar risiko kebakaran. Pemerintah Indonesia juga meningkatkan operasi
pemadaman serta modifikasi cuaca untuk membantu mengatasi kebakaran.
Asia Perlu Beralih dari Respons ke Pencegahan
Menurut analisis yang disampaikan dalam artikel CNA,
menghadapi perubahan iklim membutuhkan perubahan pendekatan. Pemerintah tidak
cukup hanya mengeluarkan sumber daya ketika bencana sudah terjadi, tetapi juga
perlu meningkatkan investasi untuk pencegahan, kesiapsiagaan dan adaptasi.
Langkah tersebut dapat mencakup pembangunan infrastruktur
yang lebih tahan terhadap bencana, sistem peringatan dini, perlindungan kawasan
rawan banjir dan kebakaran, pengelolaan air, hingga peningkatan kemampuan
masyarakat menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Investasi pencegahan juga dapat membantu mengurangi kerugian
ekonomi dan sosial ketika bencana benar-benar terjadi.
Tantangan Tidak Hanya Soal Dana
Kesenjangan menghadapi perubahan iklim bukan semata
persoalan pendanaan. Pemerintah juga harus menentukan prioritas, memperkuat
koordinasi dan memastikan kebijakan pencegahan dapat diterapkan secara efektif.
Dengan risiko cuaca ekstrem yang semakin menjadi perhatian, negara-negara Asia perlu mempersiapkan sistem yang mampu menghadapi berbagai kemungkinan, mulai dari kekeringan dan kebakaran hingga banjir serta gangguan terhadap produksi pangan.***
Artikel ini terbit dengan judul: "Commentary: Asia has to prepare before climate disasters, not just cope after they strike"oleh NIrmal Ghosh di CNA (Channelnewsasia.com) pada 18 September 2026)