Asia Diminta Lebih Siap Hadapi El Nino, Pencegahan Bencana Jadi Kunci

Jumat, 18 September 2026 | 23:56 WIB

Bagikan:

Kondisi karhutla di Kalimantan (foto: human-initiative.org)

GardaNews - Negara-negara di Asia menghadapi peningkatan risiko bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim. Kondisi tersebut membuat pemerintah di kawasan Asia dinilai perlu memperkuat langkah pencegahan dan adaptasi, bukan hanya bertindak setelah bencana terjadi.


Dalam artikel commentary Channel NewsAsia (CNA), jurnalis Nirmal Ghosh menyoroti sejumlah bencana yang terjadi di kawasan Asia, termasuk banjir besar di Nepal serta kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang menyebabkan kabut asap di sejumlah wilayah.


Situasi tersebut terjadi ketika fenomena El Nino diperkirakan membawa kondisi panas dan kering yang lebih ekstrem. Asia juga mengalami pemanasan yang berlangsung lebih cepat dibandingkan rata-rata global, sehingga risiko terhadap ketahanan pangan, kesehatan dan kehidupan masyarakat semakin menjadi perhatian.


Kesenjangan Pendanaan Adaptasi Iklim Masih Besar

Salah satu persoalan yang disoroti adalah kesenjangan antara kebutuhan pendanaan untuk menghadapi perubahan iklim dengan dana yang tersedia.


Penilaian Temasek Trust yang dikutip CNA memperkirakan Asia akan menyumbang sekitar 75% dari kesenjangan pendanaan global untuk adaptasi dan ketahanan iklim pada 2030.


Kebutuhan pendanaan untuk kawasan Asia diperkirakan lebih dari US$200 miliar setiap tahun, sedangkan aliran pendanaan yang tersedia saat ini sekitar US$19 miliar per tahun.


Untuk kawasan Asia Tenggara, studi McKinsey yang juga dikutip CNA memperkirakan kebutuhan tambahan investasi sekitar US$25 miliar per tahun agar tingkat perlindungan terhadap dampak perubahan iklim dapat mendekati standar negara-negara maju. Dengan tambahan tersebut, total investasi tahunan diperkirakan mencapai sekitar US$37 miliar.


El Nino Berpotensi Meningkatkan Risiko Pangan

Fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian karena dapat menyebabkan kondisi lebih panas dan kering di sejumlah wilayah Asia.


Riset OCBC Group Research yang dikutip CNA menyebut Indonesia, India, Filipina dan Thailand termasuk negara yang memiliki tingkat paparan tinggi terhadap dampak El Nino. Malaysia dan Vietnam juga menghadapi risiko, meskipun dampaknya dinilai lebih terkonsentrasi.


Salah satu dampak yang perlu diantisipasi adalah kenaikan harga pangan. Beras, gandum, jagung dan minyak nabati termasuk komoditas yang disebut memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kondisi tersebut.


Bagi negara-negara Asia yang memiliki ketergantungan besar terhadap sektor pertanian, perubahan pola cuaca dapat berdampak langsung terhadap produksi pangan dan pendapatan masyarakat.


Kebakaran Hutan dan Kabut Asap Jadi Ancaman

Indonesia menjadi salah satu contoh negara yang menghadapi dampak kombinasi kondisi panas, kering dan kebakaran hutan.


Pada 2026, kebakaran di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan menyebabkan kabut asap yang berdampak terhadap kualitas udara. Kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan dampak lintas batas ke negara-negara tetangga.


CNA sebelumnya melaporkan bahwa Indonesia menghadapi musim kebakaran yang sangat berat, sementara kondisi super El Nino dan kekeringan memperbesar risiko kebakaran. Pemerintah Indonesia juga meningkatkan operasi pemadaman serta modifikasi cuaca untuk membantu mengatasi kebakaran.


Asia Perlu Beralih dari Respons ke Pencegahan

Menurut analisis yang disampaikan dalam artikel CNA, menghadapi perubahan iklim membutuhkan perubahan pendekatan. Pemerintah tidak cukup hanya mengeluarkan sumber daya ketika bencana sudah terjadi, tetapi juga perlu meningkatkan investasi untuk pencegahan, kesiapsiagaan dan adaptasi.


Langkah tersebut dapat mencakup pembangunan infrastruktur yang lebih tahan terhadap bencana, sistem peringatan dini, perlindungan kawasan rawan banjir dan kebakaran, pengelolaan air, hingga peningkatan kemampuan masyarakat menghadapi kondisi cuaca ekstrem.


Investasi pencegahan juga dapat membantu mengurangi kerugian ekonomi dan sosial ketika bencana benar-benar terjadi.


Tantangan Tidak Hanya Soal Dana

Kesenjangan menghadapi perubahan iklim bukan semata persoalan pendanaan. Pemerintah juga harus menentukan prioritas, memperkuat koordinasi dan memastikan kebijakan pencegahan dapat diterapkan secara efektif.


Dengan risiko cuaca ekstrem yang semakin menjadi perhatian, negara-negara Asia perlu mempersiapkan sistem yang mampu menghadapi berbagai kemungkinan, mulai dari kekeringan dan kebakaran hingga banjir serta gangguan terhadap produksi pangan.***


Artikel ini terbit dengan judul: "Commentary: Asia has to prepare before climate disasters, not just cope after they strike"oleh NIrmal Ghosh di CNA (Channelnewsasia.com) pada 18 September 2026)

Bagikan:
KOMENTAR

TERKINI